desak.id | Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tasikmalaya bersama Pemerintah Kota Tasikmalaya resmi mencanangkan Gerakan Edukasi dan Keuangan Inklusif untuk Sekolah (GENIUS) di Aula Bapelitbangda Kota Tasikmalaya, Kamis (17/9/2026).
Acara yang menandai dibukanya rangkaian Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026 ini dihadiri 200 kepala sekolah dan tenaga pendidik dari tingkat SD/MI hingga SMA/SMK/MA sederajat se-Kota Tasikmalaya.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, angka inklusi (akses) keuangan pelajar sudah mencapai 92,76 persen, tetapi tingkat literasi (pemahaman) mereka baru di angka 62,72 persen. Artinya, banyak anak sekolah sudah punya akses ke layanan keuangan, tapi belum paham betul risiko di baliknya.
Mendidik Guru demi Melindungi Murid
Kepala OJK Tasikmalaya, Nofa Hermawati, menegaskan bahwa strategi program GENIUS difokuskan pada penguatan pemahaman para tenaga pendidik terlebih dahulu.
“GENIUS bukan sekadar mengajarkan anak tentang uang, tetapi mempersiapkan mereka mengambil keputusan keuangan yang benar untuk masa depannya. Ketika guru memiliki kecakapan keuangan dan mampu menjadi teladan, pengetahuan tersebut dapat diteruskan kepada ratusan bahkan ribuan anak,” terang Nofa.
Hingga tahun 2026, program GENIUS di wilayah Priangan Timur telah menjangkau lebih dari 13 ribu pelajar di 36 sekolah, termasuk Sekolah Luar Biasa (SLB) dan Sekolah Rakyat. Materi yang diajarkan mencakup:
- Budaya menabung dan pengelolaan uang harian.
- Pemahaman produk serta layanan keuangan formal.
- Kewaspadaan terhadap bahaya pinjaman online (pinjol) ilegal, penipuan digital, hingga judi online (judol).
Untuk menjaga keberlanjutan program, OJK juga mendorong pembentukan Duta Literasi Keuangan atau Guru Penggerak Literasi Keuangan di lingkungan sekolah.
Dukungan Pemkot dan Sinergi Lintas Sektor
Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, menyatakan dukungannya terhadap gerakan ini. Menurutnya, anak-anak zaman sekarang tumbuh di era di mana akses transaksi keuangan serba mudah dan cepat.
“Tugas kita bukan hanya membuka akses, tetapi memastikan mereka memiliki pengetahuan, kehati-hatian, dan kemampuan mengambil keputusan keuangan yang benar,” ujar Viman.
Kegiatan ini turut dihadiri Analis Pendidikan KCD Pendidikan Wilayah XII Rachmat Agus Sandi, perwakilan Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya Cecep, pengurus PGRI, serta perwakilan industri jasa keuangan seperti bank bjb dan PT Pegadaian.
Gempuran iklan judi online dan kemudahan akses pinjol ilegal hari ini sudah merambah ke gawai anak-anak usia sekolah. Inisiatif membekali para guru agar menjadi benteng literasi keuangan di sekolah adalah langkah preventif yang konkret.
PR besarnya kini ada pada konsistensi di lapangan. Jangan sampai edukasi keuangan ini berhenti sebagai seremonial tahunan BIK di aula Bapelitbangda, tetapi benar-benar membakar semangat para guru untuk membentengi murid-muridnya dari ancaman jebakan finansial digital di kehidupan sehari-hari.

