desak.id | Wajahnya tak asing bagi warga yang kerap beraktivitas di pusat-pusat keramaian Tasikmalaya. Sosok Ceu Epon—perempuan yang dikenal publik sering meminta-minta di kawasan Pasar Cikurubuk, Pasar Pancasila, hingga Pasar Singaparna—mendadak menduduki puncak perbincangan media sosial lokal.
Penyebabnya sederhana namun memicu riuh warganet: sebuah rekaman video memperlihatkan Ceu Epon mendatangi toko perhiasan dan membeli emas secara kontan. Tak tanggung-tanggung, ia mengeluarkan gepokan uang tunai dari dalam kantong plastik kresek hitam di hadapan warga yang mengerumuninya sambil merekam menggunakan kamera ponsel.
Plot Twist Kontras di Pasar Tradisional
Bagi warga yang biasa melihat aktivitas harian Ceu Epon di lorong-lorong Pasar Cikurubuk maupun Pancasila, pemandangan ini adalah sebuah plot twist sosial. Ada beberapa catatan penting yang menarik dibedah dari fenomena ini:
-
Emas Sebagai Aset Aman Akar Rumput: Fenomena ini membuktikan bahwa bagi masyarakat kelompok informal yang jauh dari akses perbankan, emas fisik tetap menjadi instrumen safe haven (penyelamat nilai uang) nomor satu. Mengubah uang kertas hasil jalanan menjadi emas adalah bentuk strategi pengamanan nilai harta paling mendasar.
-
Karakter Penghematan Ekstrem: Terlepas dari pro-kontra profesi meminta-minta, mengumpulkan uang sedikit demi sedikit hingga mampu membeli aset berharga tinggi memperlihatkan pola akumulasi modal yang kontras dengan gaya hidup konsumtif masyarakat modern.
-
Pekerjaan Rumah Regulasi Sosial: Sorotan kamera warga yang memviralkan aksi ini menjadi cermin bagi Pemkot Tasikmalaya dan Dinas Sosial. Fenomena pengemis yang sanggup membeli emas secara tunai menunjukkan ada ketimpangan informasi, efektivitas penanganan Penyedia Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), serta kompleksitas motif di balik aktivitas meminta-minta di Kota Tasikmalaya.
Video Ceu Epon membawa kantong kresek penuh uang ke toko emas mungkin mengundang senyum, keheranan, atau bahkan nada skeptis di kolom komentar. Namun di balik kehebohan viral tersebut, ada sindiran halus buat kita yang bekerja kantoran tiap bulan: apakah tabungan kita sudah bisa dibelikan emas tunai, atau malah ludes untuk cicilan dan gaya hidup?
Di sisi lain, fenomena ini seharusnya menjadi momentum evaluasi bagi instansi terkait agar penanganan PMKS di area Pasar Cikurubuk, Pancasila, hingga Singaparna dilakukan secara substantif, bukan sekadar responsif saat ada momen heboh di media sosial.

