desak.id | Kalau kamu rajin main ke toko distro, pasar kaget, atau sekadar nongkrong di warung kopi, wajah pria berbaret bintang dengan tatapan tajam ini hampir pasti pernah kamu lihat. Ya, dialah Ernesto “Che” Guevara.
Di buku sejarah dan poster demonstrasi mahasiswa, dia dipuja sebagai simbol revolusi anti-kemapanan yang tak kenal takut.
Tapi di dunia modern hari ini, Che Guevara tampaknya mengalami nasib paling ironis dalam sejarah: seorang pejuang anti-kapitalisme yang gambar mukanya paling laku dijual oleh sistem kapitalis itu sendiri.
Dari Dokter Paru-Paru Jadi Tukang Berontak
Sebelum namanya identik dengan senapan dan gerilya di dalam hutan, Che sebenarnya adalah seorang dokter muda asal Argentina. Kehidupannya berbalik 180 derajat setelah dia nekat keliling Amerika Latin naik sepeda motor tua.
Bukannya menikmati pemandangan indah, Che justru menyaksikan kemiskinan ekstrem dan ketimpangan sosial di mana-mana.
Dari perjalanan itu, jiwanya tergerak: “Ah, resep obat biasa nggak bakal mempan menyembuhkan penyakit sistemik ini. Harus pakai revolusi!”
Dia lalu bertemu Fidel Castro di Meksiko, naik kapal tua ke Kuba, dan sukses menggulingkan rezim diktator di sana. Sampai tahap ini, alur hidupnya masih sangat idealis dan heroik.
Sisi Manusiawi yang Jarang Ditulis Buku Sekolah
Buku pelajaran sering menggambarkan sosok besar secara terlalu sempurna, padahal Che juga punya sisi-sisi yang relatable sekaligus konyol:
- Paling Anti Sama Sabun Mandi: Teman-teman gerilyanya konon sering mengeluhkan bau badan Che. Dia memang terkenal malas mandi dan lebih memilih fokus memikirkan taktik perang daripada memikirkan sabun.
- Mantan Menteri yang Mudah Bosan: Setelah revolusi Kuba berhasil, dia sempat diangkat jadi Menteri Perindustrian dan Presiden Bank Nasional. Bayangkan, seorang pejuang gerilya harus duduk di balik meja mengurus angka-angka inflasi dan stok gula nasional. Hasilnya? Dia bosan setengah mati, memilih mundur, lalu balik lagi naik gunung ke Kongo dan Bolivia.
Korban Paling Sukses dari Pasar Bebas
Hal paling menggelitik dari warisan Che Guevara hari ini adalah bagaimana fotonya, yang awalnya dipotret secara spontan oleh Alberto Korda menjadi salah satu gambar paling banyak diproduksi massal di planet bumi.
Simbol perlawanan ini sekarang menempel rapat di:
- Kaos distro seharga 85 ribuan.
- Stiker kaca helm anak motor.
- Cangkir kopi di kafe-kafe kekinian.
Pria yang mengutuk sistem pasar bebas ini kini justru menjadi mesin pencetak uang bagi para pemilik pabrik garmen dan penjual merchandise.Sebuah komedi situasi sejarah yang sangat luar biasa.
Kenapa Sosoknya Tetap Asyik Dibahas?
Terlepas dari kontroversi politik dan nasib fotonya yang berakhir jadi barang dagangan, Che Guevara tetap menarik karena satu hal: konsistensi.
Di zaman sekarang, saat banyak orang gampang banting setir demi kenyamanan pribadi, Che adalah tipikal orang yang nekat mengejar idealismenya sampai titik darah penghabisan.
Dia membuktikan bahwa untuk jadi sosok yang terus dibicarakan berpuluh-puluh tahun kemudian, kamu tidak perlu jadi orang yang sempurna cukup punya sikap yang tegas, ideologi yang dipegang teguh, dan tentu saja, wajah yang photogenic saat difoto dari samping.

