Desak.id | Biasanya, kalau ada pejabat yang terkena reshuffle, reaksi publik kalau tidak prihatin, ya sujud syukur karena yang bersangkutan dinilai kurang cakap. Tapi hukum alam politik Indonesia memang selalu punya plot twist ajaib.
Begitu nama Purbaya masuk dalam daftar menteri/pejabat yang digeser dari posisinya, kolom komentar media sosial tidak diisi oleh deretan ucapan duka politik. Sebaliknya, netizen justru berbondong-bondong mengucapkan: “Selamat, Pak! Anda sudah diselamatkan Allah.”
Menderita di Dalam, Merdeka di Luar
Komentar warganet ini sebenarnya menyenggol satu fakta satir yang amat dalam: duduk di kursi kekuasaan masa kini itu bukannya makin enak, tapi makin mirip diuji mental tiap hari.
Di mata netizen +62, keluar dari lingkaran kabinet saat situasi politik dan ekonomi lagi mumet-mumetnya itu ibarat:
-
Dapat tiket lolos dari wahana roller coaster yang remnya mendadak blong.
-
Lepas dari kewajiban menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit di DPR saat rapat kerja jam 2 pagi.
-
Terbebas dari potensi kena prank kebijakan yang serba mendadak dan bikin pusing kepala.
Kalau biasanya dicopot dari jabatan dianggap sebagai bentuk kelalaian, dalam kasus ini Purbaya justru dianggap dapat free pass menuju ketenangan jiwa dan raga.
Reshuffle Sebagai ‘Nikmat Yang Harus Disyukuri’
Fenomena ucapan selamat ini memperlihatkan betapa uniknya standar kebahagiaan publik kita. Ketika jabatan politik tidak lagi dilihat sebagai panggung kehormatan, melainkan beban hidup yang sangat berat, maka pemberhentian resmi adalah sebuah keberkahan.
“Mungkin Allah punya rencana yang lebih baik, Pak. Minimal bapak sekarang bisa tidur nyenyak tanpa perlu mikirin anggaran yang harus dipangkas,” tulis salah satu netizen yang tampaknya sangat memahami betapa mahalnya harga sebuah kesehatan mental di birokrasi.
Untuk Pak Purbaya, selamat menikmati waktu luang, menikmati kopi tanpa interupsi protokol, dan menghirup udara bebas. Bagi pejabat yang masih bertahan di dalam: tetap semangat, uji nyali kalian belum selesai.

