desak.id | Ulang tahun SMAN 1 Tasikmalaya (Satas) yang ke-70 bukan sekadar urusan tiup lilin atau euforia hura-hura.
Sekolah yang kondang dengan angka kelulusan ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di atas 90 persen ini memilih menjadikan momentum sewindu kurang dikit ini buat nggembleng karakter siswanya agar tidak cuma pinter di atas kertas.
Kepala SMAN 1 Tasikmalaya, Dr. H. Yonandi, S.Si., M.T., menegaskan bahwa kepintaran akademik itu penting, tapi bikin anak didik berguna buat masyarakat jauh lebih krusial.
“Kesuksesan itu tidak cukup cuma cerdas atau pintar. Yang utamanya adalah karakter. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat buat manusia lain,” tegas Yonandi.
Ketika OSIS Diuji Jadi Event Organizer Kelas Berat
Alih-alih menyewa Event Organizer (EO) dari luar, perayaan HUT ke-70 ini sepenuhnya diserahkan ke pengurus OSIS Satas. Di sini kemampuan organisasi dan kepemimpinan mereka diuji secara riil di lapangan.
Rangkaian acara diisi dengan berbagai kegiatan kokurikuler dan kreasi siswa:
-
Daur Ulang Sampah: Mengolah sampah plastik/bekas menjadi pakaian kreatif.
-
Karya Tulis & Aplikasi: Pameran kreasi individu berupa penulisan karya ilmiah hingga pembuatan aplikasi digital.
-
Lomba Eksternal SMP: Melibatkan adik-adik SMP sederajat se-Tasikmalaya lewat lomba cerdas cermat, melukis payung geulis, hingga storytelling.
Bukan cuma itu, aksi kepedulian sosial seperti agenda rutin donor darah tetap dipertahankan, dan seluruh rangkaian HUT dibuka secara religius melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai figur teladan utama.
Reuni Suara Emas Bunga Citra Lestari
Ada yang beda di hajatan HUT Satas kali ini. Pihak sekolah membocorkan kehadiran alumni kebanggaan mereka yang punya suara emas, Bunga Citra Lestari (BCL), untuk tampil dan berbagi pengalaman (sharing session) bersama adik-adik kelasnya.
Kehadiran sosok sekaliber BCL diharapkan bisa memotivasi para siswa bahwa jalan sukses alumni Satas itu sangat beragam—mulai dari akademisi, birokrat, sampai pekerja seni di panggung nasional.
Lulus PTN 90-100% itu sudah jadi “makanan sehari-hari” nama besar Satas. Tapi tantangan zaman sekarang justru ada pada ketahanan karakter. Bisakah anak-anak langganan PTN ini tetap santun, tidak jemawa, dan lincah beradaptasi di tengah masyarakat?
Langkah Satas menjadikan anak OSIS sebagai EO dan mewajibkan kreasi daur ulang hingga aplikasi adalah bukti bahwa sekolah paham betul: dunia nyata butuh orang yang siap kerja dan bermanfaat, bukan sekadar pinter menjawab soal ujian.
Selamat ulang tahun ke-70 buat SMAN 1 Tasikmalaya!

