Puncak peringatan Milad ke-49 Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kota Tasikmalaya baru saja digelar meriah di Masjid Agung, Selasa 15 September 2026.
Angka 49 ini dirayakan dengan aksi nyata yang serba angka 49: 490 paket santunan, bersih-bersih di 490 masjid/mushola, sampai bagi-bagi air bersih ke 49 titik lokasi.
Sebuah selebrasi yang patut diacungi jempol. Namun, di balik selebrasi dan jualan jargon keren “Menyiapkan Generasi Emas 2045”, ada satu realita pahit yang bikin elus dada di sela-sela obrolan warmindo.
Honor Rp100 Ribu: Dedikasi Tanpa Batas atau Uji Ketaatan?
Ketua BKPRMI Kota Tasikmalaya, Nuki Anwar Siddik, menyenggol isu yang sebenarnya sudah jadi open secret di kota santri ini: kesejahteraan guru TK dan TPA yang sangat prihatin.
Bayangkan, di tengah harga beras yang rajin naik dan tarif kuota internet yang makin mencekik, masih banyak guru keagamaan yang cuma mengantongi honor Rp100 ribu per bulan.
Bahkan, tidak sedikit yang mengajar secara pure “gratisan” alias sama sekali tak dibayar karena DKM atau lembaganya tidak punya sumber dana infak.
Pemerintah Kota memang sudah menyalurkan insentif untuk 779 guru. Tapi sisanya? Ya harus ekstra sabar menunggu antrean kondisi keuangan daerah yang katanya lagi seret.
Visi 2045 vs Realita APBD 2027
Wali Kota Tasikmalaya, H. Viman Alfarizi Ramadhan, hadir memberikan apresiasi dan tiga pesan sakti buat para guru:
- Tanamkan rasa cinta ke Kota Tasik sejak dini.
- Bijak bermedia sosial.
- Terus jadi guru hebat pencetak calon pemimpin masa depan.
Pesan yang sangat normatif dan menyejukkan hati. Tapi ya itu tadi, begitu masuk ke ranah eksekusi insentif, ujung-ujungnya balik lagi ke rumus klasik birokrasi: “tergantung kemampuan fiskal daerah” dan “masih dibahas untuk APBD 2027”.
Artinya? Para pejuang pendidikan prasekolah ini diminta terus mencetak kader “pemimpin hebat” sambil tetap memelihara kesabaran setebal benteng Pancasila sampai anggaran Pemkot benar-benar stabil.
Pejuang Ikhlas di Kota Santri
Kita semua paham, para ustaz dan ustazah TK/TPA ini bergerak bukan demi mengejar kekayaan material. Mereka adalah benteng pertahanan moral anak-anak Tasikmalaya di tengah gempuran algoritma TikTok dan tren game online.
Tapi menjadikan “keikhlasan” mereka sebagai alasan untuk memaklumi lambatnya dukungan finansial jelas sebuah satir kehidupan yang kelewat getir.
Selamat Milad ke-49 buat BKPRMI Kota Tasikmalaya. Tetap semangat buat para ustaz dan ustazah pejuang ikhlas! Semoga janji insentif di APBD mendatang bukan cuma sekadar penawar dahaga di tengah teriknya kondisi fiskal. (Red)

