Desak.id | Keluarga pasangan Nana Supriatna dan Ariana Kurniati terus memperjuangkan hak sekolah anaknya Malik (7) agar bisa diterima di SDN Sindanggalih, Tawang Kota Tasikmalaya.
Keluarga pasangan tersebut diduga mendapat perlakuan diskriminatif karena kondisi Fisik Malik yang lemah, sehingga disarankan untuk mendaftarkan anaknya tersebut ke sekolah luar biasa.
Padahal menurut penglihatan penulis saat memantau kondisi Malik langsung ke rumahnya, Malik tidak bisa dikategorikan Anak Berkebutuhan Khusus, hanya saja memiliki kaki yang lemah.
Malik memiliki daya tangkap komunikasi yang baik dan lancar. Bahkan anak yang bercita cita jadi tentara tersebut dalam hal tulis menulis sangat baik, terlihat dari catatan yang memiliki nilai sempurna.
Namun sayang hal tersebut belum bisa menjadi pertimbangan pihak sekolah untuk menerima Malik yang malah disarankan untuk memilih daftar di sekolah luar biasa.
Ariana menceritakan, dirinya pada hari Senin kemarin di panggil pihak sekolah untuk diberikan informasi dan saran bahwa sekolah belum punya fasilitas untuk anaknya dan menyarankan hal tersebut diatas.
Sontak hal tersebut membuat Ariana dan suami merasa terpukul dan sedih. Namun Ariana tidak tinggal diam, dia masih berusaha meyakinkan sekolah agar anaknya bisa diterima di SDN Sindanggalih tersebut.
“Iya pak, berkasnya sudah masuk, kemaren kami ditelepon supaya datang ke sekolah, namun kata pihak sekolah bilang tidak punya fasilitas dan menyarankan anak saya supaya sekolah di SLB. Tentu saya sedih pak,” ungkapnya sambil berlinang air mata.
Ariana berharap, pihak sekolah bisa memberikan kesempatan kepada Malik untuk bisa sekolah di SDN Sindanggalih tersebut.
Dan mengenai fasilitas khusus seperti untuk kursi, ayahnya Malik yang kebetulan bekerja sebagai buruh mebeler bisa mengusahakannya.
“Kami mah tetap pingin anak saya bisa sekolah di SDN Sindanggalih,” harapnya.
Sementara Kepala Sekolah SDN Sindanggalih, Nana Hermawan, membantah ada penolakan terhadap Malik, namun dia mengakui menyarankan Malik agar di sekolahkan di sekolah luar biasa.
“Kami sudah berembug agar semua yang daftar bisa diterima. Sebenarnya tidak ditolak karena memang pengumumannya baru akan keluar nanti tanggal 6 juli,” terangnya saat dihubungi via telepon WhatsApp.
Ditanya memastikan pihaknya menyarankan agar Malik disekolahkan di SLB, Nana tidak membantah. Iya mengiyakan saran tersebut.
“Iya,” jawabnya saat ditanya apakah sekolah menyarankan Malik agar sekolah di SLB.
Lalu Nana berkilah bahwa sekolah yang ia pimpin memang belum punya fasilitas memadai untuk siswa yang dengan kondisi fisik seperti Malik.
Nana berkilah takutnya nanti Malik tidak bisa diperhatikan maksimal. (***)

