Komunitas Peduli Lingkungan Hidup akan Hijaukan Masjid se Kota Tasikmalaya dengan Tanam 2.000 Pohon    •     Kpw BI Tasikmalaya dan Pemkab Ciamis Perkuat Ekonomi Syariah dan UMKM Halal lewat  JAZIRAH x CCE 2026    •     Gelar Kelulusan, Kepala Madrasah MTSs Riyadlurohmah Berpesan Jaga Nama Baik Diri, Keluarga dan Almamater    •     Sukses Bangun Citra Tanggung Jawab Sosial, JNE Raih Indonesia CSR Brand Equity Awards 2026    •     OJK Tasikmalaya Ajak Organisasi Kepemudaan Waspadai Judol dan Pinjol Ilegal    •     Berdayakan Peternak Lokal, OJK Tasikmalaya Gulirkan Program BEREHAN    •     Pererat Silaturahmi Alumni SMANDA Angkatan 99 Melalui Reuni Perak +2    •     KPU Kota Tasikmalaya bersama Pemkab Tasikmalaya Sepakati Penggunaan Asset Pemda Tanpa Biaya Sewa    •     Perkuat Organisasi, MPC PP Kota Tasikmalaya Gelar Konsolidasi dengan PAC    •     Aksi Sosial Akbar Lintas Sektor Ciptakan Kebahagian Ribuan Warga Tasikmalaya    •     Penyakit Masyarakat Masih Marak, AMT Nilai Satpol-PP Kota Tasikmalaya Mati Suri    •     Karang Taruna Kabupaten Tasikmalaya Sembelih Sapi Kurban, Wujud Syukur Atas Nikmat Sehat    •     Peringati Hari Kebangkitan Nasional, Kodim 0612/Tasikmalaya Bersama OJK Deklarasi Tolak Judi Online dan Aktivitas Keuangan Ilegal    •     Disnaker Kota Tasikmalaya Dukung Penuh Sertifikasi Kompetensi Memasak Bagi Relawan MBG    •     Buah Konsistensi, Mohamad Feriadi Soeprapto Raih Indonesia Best 50 CEO Awards 2026    •    
Ekonomi

BI Tasikmalaya dan Pemkot Tasik Luncurkan Program Paranje kepada Tujuh Kelompok Tani

×

BI Tasikmalaya dan Pemkot Tasik Luncurkan Program Paranje kepada Tujuh Kelompok Tani

Sebarkan artikel ini
BI Tasikmalaya dan Pemkot Tasik Luncurkan Program Paranje kepada Tujuh Kelompok Tani
Pj Walikota Tasikmalaya bersama kepala BI Tasikmalaya usai survey lokasi/ir

Tasikmalaya, Intiraya.com | Tujuh kelompok tani di Kota Tasikmalaya mendapat bantuan program pengembangan ayam Rancage Kota Tasikmalaya (Paranje Tasik), Selasa (30/07/24).

Ke tujuh kelompok tersebut yaitu kelompok tani Sinar Jaya, Mekar Bakti, Taruna Tani Mekar Jaya, Taruna Tani Mewangi Mandiri, Tani Suka Mekar II, dan Taruna Tani Berkobar.

Program tersebut merupakan program integrasi antara Bank Indonesia Tasikmalaya dengan Pemerintah Kota Tasikmalaya, guna mendukung pengendalian inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif.

Paranje Tasik menjadi inovasi program dari Pemerintah Kota Tasikmalaya yang diinisasi di Kelompok Tani Sawargi Jaya, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Purbaratu.

Kepala BI Tasikmalaya, Aswin Kosotali, mengatakan, Kota Tasikmalaya sebagai hub bagi daerah di Priangan Timur yang dikelilingi oleh daerah-daerah penghasil bahan makanan pokok masyarakat tidak lepas dari permasalahan harga pangan.

Hal ini lanjut Aswin, terlihat dari rerata laju inflasi Kota Tasikmalaya dalam 3 tahun terakhir sebesar 3,66% (yoy) dengan rerata inflasi bahan makanan sebesar 6,07% (yoy).

“Jika dilihat dari laju inflasi secara umum cukup terkendali, namun dilihat dari laju inflasi bahan makanan cukup mengkhawatirkan,” terangnya.

Aswin menerangkan, terdapat 2 (dua) faktor utama tingginya laju inflasi bahan makanan di Kota Tasikmalaya yakni faktor struktural terkait dengan produksi (hulu), distribusi, dan akses pasar (hilir).

Faktor lainnya yaitu musiman seperti pengaruh cuaca, hari besar keagamaan, maupun hari libur kumulatif.

“Dampak dari kenaikan harga bahan makanan akan meningkatkan tingkat kemiskinan yang efek rambatannya berdampak pada stunting,” ujarnya.

Program Sinergi

PJ Wali Kota Tasikmalaya, Cheka Virgowansyah berharap, dengan adanya program sinergi ini bisa menjadi contoh dari 7 kelompok Tani kepada pelaku peternak Kota Tasikmalaya khususnya dan umumnya bagi Masyarakat Indonesia.

Menurtunya, inovasi ini sekaligus menjadi solusi atas anjlok nya harga pemasok, peningkatan taraf ekonomi, stunting dan yang terpenting memupuk permasalahan sampah yabg dihasilkan Kota Tasikmalaya sebesar 220 ton perhari nya.

“Dengan adanya inovasi tersebut, setidaknya 75 ton sampah di Kota Tasikmalaya bisa teratasi dan menjadi kebermanfaatan baru untuk pakan magot yang menjadi alternatif pakan ternak di Paranje Kota Tasikmalya,” ungkapnya.

Cheka menuturkan, Program Paranje dapat menjadi solusi alternatif untuk mengatasi permasalahan struktural (distribusi yang tidak merata dari daerah pemasok) maupun musiman (lonjakan permintaan seiring HBKN) komoditas daging ayam ras.

Dengan memanfaatkan teknologi modern (mini closed house) memungkinkan budidaya ayam pedaging secara intensif dapat dilakukan di lahan terbatas perkotaan.

Diharapkan melalui program PARANJE ini menjadi jawaban bagi permasalahan yang dihadapi khususnya terkait gejolak harga, tingkat kemiskinan, dan permasalahan stunting di Kota Tasikmalaya.

“Dengan adanya program ini juga dapat meningkatkan daya beli dan kesejahteraan masyarakat sehingga pertumbuhan ekonomi yang inklusif disertai stabilitas harga dapat terwujud di Kota Tasikmalaya,” harapnya. (Ir01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *