Komunitas Peduli Lingkungan Hidup akan Hijaukan Masjid se Kota Tasikmalaya dengan Tanam 2.000 Pohon    •     Kpw BI Tasikmalaya dan Pemkab Ciamis Perkuat Ekonomi Syariah dan UMKM Halal lewat  JAZIRAH x CCE 2026    •     Gelar Kelulusan, Kepala Madrasah MTSs Riyadlurohmah Berpesan Jaga Nama Baik Diri, Keluarga dan Almamater    •     Sukses Bangun Citra Tanggung Jawab Sosial, JNE Raih Indonesia CSR Brand Equity Awards 2026    •     OJK Tasikmalaya Ajak Organisasi Kepemudaan Waspadai Judol dan Pinjol Ilegal    •     Berdayakan Peternak Lokal, OJK Tasikmalaya Gulirkan Program BEREHAN    •     Pererat Silaturahmi Alumni SMANDA Angkatan 99 Melalui Reuni Perak +2    •     KPU Kota Tasikmalaya bersama Pemkab Tasikmalaya Sepakati Penggunaan Asset Pemda Tanpa Biaya Sewa    •     Perkuat Organisasi, MPC PP Kota Tasikmalaya Gelar Konsolidasi dengan PAC    •     Aksi Sosial Akbar Lintas Sektor Ciptakan Kebahagian Ribuan Warga Tasikmalaya    •     Penyakit Masyarakat Masih Marak, AMT Nilai Satpol-PP Kota Tasikmalaya Mati Suri    •     Karang Taruna Kabupaten Tasikmalaya Sembelih Sapi Kurban, Wujud Syukur Atas Nikmat Sehat    •     Peringati Hari Kebangkitan Nasional, Kodim 0612/Tasikmalaya Bersama OJK Deklarasi Tolak Judi Online dan Aktivitas Keuangan Ilegal    •     Disnaker Kota Tasikmalaya Dukung Penuh Sertifikasi Kompetensi Memasak Bagi Relawan MBG    •     Buah Konsistensi, Mohamad Feriadi Soeprapto Raih Indonesia Best 50 CEO Awards 2026    •    
Daerah

Mahasiswi Kesehatan UNSIL Soroti Maraknya Kasus Asusila di Kabupaten Tasikmalaya

×

Mahasiswi Kesehatan UNSIL Soroti Maraknya Kasus Asusila di Kabupaten Tasikmalaya

Sebarkan artikel ini

Tasikmalaya, desak.id/ | Mahasiswa Universitas Negeri Siliwangi (Unsil), menyoroti maraknya kasus asusila yang terjadi di Kabupaten Tasikmalaya.

Fransiska Juliana, mahasiswi Unsil jurusan Kesehatan Masyarakat angkatan 2023, mendorong perlunya langkah konkret dari pemerintah maupun masyarakat dalam menanggulangi fenomena ini.

Fransiska mengatakan, kurangnya edukasi di masyarakat, sebagai salah satu penyebab utama meningkatnya kasus kekerasan dan pelecehan seksual.

"Minimnya edukasi dari lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat membuat anak-anak dan remaja lebih rentan," ungkapnya beberapa waktu lalu.

Untuk itu, lanjut dia, perlu ada pendekatan menyeluruh dalam memberi pemahaman soal batasan perilaku yang sehat dan aman.

Tak hanya edukasi, Fransiska juga menyoroti perlunya evaluasi terhadap hukuman bagi pelaku tindak asusila.

Ia menilai bahwa sanksi hukum yang lebih tegas dapat memberikan efek jera dan mencegah tindakan serupa di kemudian hari.

"Hukuman perlu dikaji ulang. Jika tidak memberi efek jera, maka kasus seperti ini akan terus berulang," tambahnya.

Sementara untuk korban, Fransiska mengungkapkan, pentingnya pendampingan jangka panjang, bukan hanya selama proses hukum berjalan.

"Korban sering kali hanya diperhatikan saat kasus sedang ramai dibicarakan. Padahal, mereka butuh pemulihan jangka panjang agar bisa kembali menjalani kehidupan secara normal," tegasnya.

Selain tentang regulasi dan hukuman, serta pendidikan, Fransiska juga menyoroti Pesatnya kemajuan teknologi, terutama penggunaan media sosial dan perangkat digital oleh anak dan remaja.

Menurutnya, tanpa pengawasan dan literasi digital yang kuat, perkembangan ini bisa menjadi celah baru bagi kejahatan seksual.

Ia berharap adanya sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam membangun sistem perlindungan yang lebih baik, serta melakukan revisi terhadap regulasi yang masih lemah.

"Jika sistemnya dibenahi secara menyeluruh, kita bisa mencegah kasus-kasus ini sejak dini. Ini bukan sekadar soal hukum, tapi juga soal kesadaran sosial dan moral," tutupnya. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *