Kepala MI Persis Gandok Ungkap Madrasah Bukan Pendidikan Kelas Dua    •     55 Siswa MI Persis Gandok Ikuti Pelepasan, Berikut Pesan Kepala Sekolah MI    •     Komunitas Peduli Lingkungan Hidup akan Hijaukan Masjid se Kota Tasikmalaya dengan Tanam 2.000 Pohon    •     Kpw BI Tasikmalaya dan Pemkab Ciamis Perkuat Ekonomi Syariah dan UMKM Halal lewat  JAZIRAH x CCE 2026    •     Gelar Kelulusan, Kepala Madrasah MTSs Riyadlurohmah Berpesan Jaga Nama Baik Diri, Keluarga dan Almamater    •     Sukses Bangun Citra Tanggung Jawab Sosial, JNE Raih Indonesia CSR Brand Equity Awards 2026    •     OJK Tasikmalaya Ajak Organisasi Kepemudaan Waspadai Judol dan Pinjol Ilegal    •     Berdayakan Peternak Lokal, OJK Tasikmalaya Gulirkan Program BEREHAN    •     Pererat Silaturahmi Alumni SMANDA Angkatan 99 Melalui Reuni Perak +2    •     KPU Kota Tasikmalaya bersama Pemkab Tasikmalaya Sepakati Penggunaan Asset Pemda Tanpa Biaya Sewa    •     Perkuat Organisasi, MPC PP Kota Tasikmalaya Gelar Konsolidasi dengan PAC    •     Aksi Sosial Akbar Lintas Sektor Ciptakan Kebahagian Ribuan Warga Tasikmalaya    •     Penyakit Masyarakat Masih Marak, AMT Nilai Satpol-PP Kota Tasikmalaya Mati Suri    •     Karang Taruna Kabupaten Tasikmalaya Sembelih Sapi Kurban, Wujud Syukur Atas Nikmat Sehat    •     Peringati Hari Kebangkitan Nasional, Kodim 0612/Tasikmalaya Bersama OJK Deklarasi Tolak Judi Online dan Aktivitas Keuangan Ilegal    •    
Daerah

SIPATUTAT : Rotasi-Mutasi Pemkot Tasikmalaya, Kursi Berpindah, Visi Masih Menunggu Penumpang

×

SIPATUTAT : Rotasi-Mutasi Pemkot Tasikmalaya, Kursi Berpindah, Visi Masih Menunggu Penumpang

Sebarkan artikel ini

Tasikmalaya, desak.id/ | Rotasi-mutasi pejabat eselon II Pemkot Tasikmalaya pada 11 Agustus 2025 disajikan sebagai langkah penyegaran birokrasi.

Namun, di balik deretan nama yang dilantik, publik menemukan ironi: wajah-wajah lama berganti kursi, tapi setengah meja pimpinan OPD strategis dibiarkan kosong.

Delapan OPD vital—mulai dari Dinkes, Diskominfo, Disdukcapil, hingga Inspektorat—kini tanpa kepala definitif.

Sementara itu, kursi yang diisi pun banyak yang sekadar bertukar tempat di lingkaran yang sama. Figur baru dengan gagasan segar dan keberanian memutus pola lama? Masih jadi rumor, bukan realita.

Kekosongan jabatan di OPD strategis bukan sekadar “nanti juga terisi.”

Ia berdampak langsung: layanan publik bisa tersendat, pengawasan internal lumpuh, hingga kebijakan penting tertunda karena Plt hanya memegang kewenangan setengah hati.

"Hukum memang memberi batas, dan batas itu kini menjadi pagar yang membatasi langkah," terang Irwan Supriadi Iwok dari SIPATUTAT.

Menurutnya, Enam bulan pertama adalah masa emas untuk menunjukkan arah kepemimpinan. Tapi jika separuh kursi dibiarkan kosong, publik justru membaca pesan yang keliru:

"Bukan “ini tim yang siap bekerja,” melainkan “tim ini masih sibuk menunggu daftar hadir lengkap.” tambahnya.

SIPATUTAT mengingatkan, rotasi-mutasi bukan ajang seremonial atau lomba tukar kursi. Ia adalah kesempatan langka untuk menata ulang birokrasi secara transparan, profesional, dan berbasis meritokrasi.

Irwan mengatakan, menunda pengisian jabatan strategis sama artinya membiarkan kapal pemerintahan berlayar dengan separuh kemudi dan berharap ombak akan membawa kapal ke dermaga tujuan.

"Jika ini dianggap strategi, maka rakyat berhak bertanya: ini kapal pemerintahan atau sekadar panggung pertunjukan yang aktornya sedang latihan tanpa naskah?," tandasnya penuh tanya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *