Komunitas Peduli Lingkungan Hidup akan Hijaukan Masjid se Kota Tasikmalaya dengan Tanam 2.000 Pohon    •     Kpw BI Tasikmalaya dan Pemkab Ciamis Perkuat Ekonomi Syariah dan UMKM Halal lewat  JAZIRAH x CCE 2026    •     Gelar Kelulusan, Kepala Madrasah MTSs Riyadlurohmah Berpesan Jaga Nama Baik Diri, Keluarga dan Almamater    •     Sukses Bangun Citra Tanggung Jawab Sosial, JNE Raih Indonesia CSR Brand Equity Awards 2026    •     OJK Tasikmalaya Ajak Organisasi Kepemudaan Waspadai Judol dan Pinjol Ilegal    •     Berdayakan Peternak Lokal, OJK Tasikmalaya Gulirkan Program BEREHAN    •     Pererat Silaturahmi Alumni SMANDA Angkatan 99 Melalui Reuni Perak +2    •     KPU Kota Tasikmalaya bersama Pemkab Tasikmalaya Sepakati Penggunaan Asset Pemda Tanpa Biaya Sewa    •     Perkuat Organisasi, MPC PP Kota Tasikmalaya Gelar Konsolidasi dengan PAC    •     Aksi Sosial Akbar Lintas Sektor Ciptakan Kebahagian Ribuan Warga Tasikmalaya    •     Penyakit Masyarakat Masih Marak, AMT Nilai Satpol-PP Kota Tasikmalaya Mati Suri    •     Karang Taruna Kabupaten Tasikmalaya Sembelih Sapi Kurban, Wujud Syukur Atas Nikmat Sehat    •     Peringati Hari Kebangkitan Nasional, Kodim 0612/Tasikmalaya Bersama OJK Deklarasi Tolak Judi Online dan Aktivitas Keuangan Ilegal    •     Disnaker Kota Tasikmalaya Dukung Penuh Sertifikasi Kompetensi Memasak Bagi Relawan MBG    •     Buah Konsistensi, Mohamad Feriadi Soeprapto Raih Indonesia Best 50 CEO Awards 2026    •    
Daerah

Tasikmalaya Krisis Drainase, Banjir Bukan Sekadar Hujan Tapi Masalah Tata Kelola

×

Tasikmalaya Krisis Drainase, Banjir Bukan Sekadar Hujan Tapi Masalah Tata Kelola

Sebarkan artikel ini
Tasikmalaya Krisis Drainase, Banjir Bukan Sekadar Hujan Tapi Masalah Tata Kelola
Tasikmalaya Krisis Drainase, Banjir Bukan Sekadar Hujan Tapi Masalah Tata Kelola

 

Tasikmalaya, desak.id/ | Genangan dan banjir yang berulang di Kota Tasikmalaya bukan lagi sekadar peristiwa alam, melainkan cerminan dari kegagalan tata kelola infrastruktur perkotaan.

Setiap kali hujan turun dengan intensitas sedang hingga tinggi, sejumlah wilayah dari pusat kota hingga kawasan permukiman padat, terendam air.

Hal tersebut menjadai perhatian banyak pihak, salah satunya, Aliansi Mahasiswa Tasikmalaya yang mengkrikit kebijakan yang seolah tidak ada hasilnya.

Riswara Nugroho, Ketua Umum Aliansi Mahasiswa Tasikmalaya, mengatakan, Pola ini berulang dari tahun ke tahun, tanpa ada perbaikan yang berarti.

Menurutnya, masalah utama bukan pada langit yang menurunkan hujan, tetapi pada tanah yang kehilangan kemampuan menyerap air dan sistem drainase yang tidak lagi berfungsi optimal.

"Banyak saluran air yang dangkal, tersumbat sampah, bahkan tak jarang hilang tertutup bangunan. Kapasitas drainase tidak sebanding dengan peningkatan volume limpasan air akibat pesatnya pembangunan permukiman dan minimnya area resapan," terangnya.

Kondisi ini, lanjut Riswara, menunjukkan lemahnya perencanaan dan pengawasan terhadap sistem drainase kota. Pembangunan kerap berjalan tanpa memperhitungkan arah aliran air, sementara perawatan infrastruktur yang sudah ada berjalan setengah hati.

"Akibatnya, setiap hujan deras berubah menjadi bencana kecil yang mengganggu aktivitas warga, merusak infrastruktur, dan menimbulkan kerugian ekonomi," tambahnya.

Riswara menegaskan, sudah saatnya Pemerintah Kota Tasikmalaya tidak lagi bersikap reaktif sekadar mengeruk saluran setelah banjir datang melainkan bertindak strategis dan preventif.

"Dibutuhkan audit menyeluruh terhadap sistem drainase kota: mulai dari peta aliran air, kapasitas saluran, hingga konektivitas antarjaringan," ujarnya.

Pemerintah terang Riswara, perlu menerapkan konsep drainase berwawasan lingkungan atau Sustainable Urban Drainage System (SUDS), seperti pembangunan sumur resapan, taman resapan, kolam retensi, dan penggunaan material berpori di area publik.

Selain itu, keterlibatan masyarakat juga menjadi kunci. Tanpa kesadaran warga untuk menjaga kebersihan saluran dan tidak membuang sampah sembarangan, infrastruktur secanggih apa pun tidak akan mampu mengatasi persoalan ini.

Banjir di Tasikmalaya adalah alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa pengelolaan air perkotaan harus berubah arah.

"Hujan tidak bisa dicegah, tetapi dampaknya bisa dikendalikan asal sistem drainase dirancang dengan ilmiah, dikelola dengan konsisten, dan diawasi dengan tegas," tandasnya.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *