Komunitas Peduli Lingkungan Hidup akan Hijaukan Masjid se Kota Tasikmalaya dengan Tanam 2.000 Pohon    •     Kpw BI Tasikmalaya dan Pemkab Ciamis Perkuat Ekonomi Syariah dan UMKM Halal lewat  JAZIRAH x CCE 2026    •     Gelar Kelulusan, Kepala Madrasah MTSs Riyadlurohmah Berpesan Jaga Nama Baik Diri, Keluarga dan Almamater    •     Sukses Bangun Citra Tanggung Jawab Sosial, JNE Raih Indonesia CSR Brand Equity Awards 2026    •     OJK Tasikmalaya Ajak Organisasi Kepemudaan Waspadai Judol dan Pinjol Ilegal    •     Berdayakan Peternak Lokal, OJK Tasikmalaya Gulirkan Program BEREHAN    •     Pererat Silaturahmi Alumni SMANDA Angkatan 99 Melalui Reuni Perak +2    •     KPU Kota Tasikmalaya bersama Pemkab Tasikmalaya Sepakati Penggunaan Asset Pemda Tanpa Biaya Sewa    •     Perkuat Organisasi, MPC PP Kota Tasikmalaya Gelar Konsolidasi dengan PAC    •     Aksi Sosial Akbar Lintas Sektor Ciptakan Kebahagian Ribuan Warga Tasikmalaya    •     Penyakit Masyarakat Masih Marak, AMT Nilai Satpol-PP Kota Tasikmalaya Mati Suri    •     Karang Taruna Kabupaten Tasikmalaya Sembelih Sapi Kurban, Wujud Syukur Atas Nikmat Sehat    •     Peringati Hari Kebangkitan Nasional, Kodim 0612/Tasikmalaya Bersama OJK Deklarasi Tolak Judi Online dan Aktivitas Keuangan Ilegal    •     Disnaker Kota Tasikmalaya Dukung Penuh Sertifikasi Kompetensi Memasak Bagi Relawan MBG    •     Buah Konsistensi, Mohamad Feriadi Soeprapto Raih Indonesia Best 50 CEO Awards 2026    •    
Kesehatan

Inovatif, Puskesmas Bungursari Bina dan Dampingi ODGJ Hingga Punya Usaha Sendiri

×

Inovatif, Puskesmas Bungursari Bina dan Dampingi ODGJ Hingga Punya Usaha Sendiri

Sebarkan artikel ini
Inovatif, Puskesmas Bungursari Bina dan Dampingi ODGJ Hingga Punya Usaha Sendiri
Tim dari Puskesmas Bungursari mengunjungi rumah salah satu pasien ODGJ Emen Pengusaha Telur Asin/ist

Tasikmalaya, intiraya,com | Langkah inovatif tengah dilaksanakan Puskesmas Bungursari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, yakni melayani dan mendampingi para ODGJ hingga memiliki usaha sendiri.

Inovasi tersebut diberi nama Jiwa Sedatif Panto Tobat Stabil, hal tersebut seperti yang diungkapkan Gina Nurrahida, S.Kep programer kesehatan jiwa di Puskesmas Bungursari.

“Ya kami menyebutnya program Jiwa Sedatif Panto Tobat Stabil,” ungkap Gina diamini Kepala Puskesmas Bungursari, dr Eko Anggoro saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu 12 Maret 2025.

Gina mengungkapkan, konsep program tersebut sudah dijalankan sejak 2021 namun penamaannya baru baru ini dipublikasikan.

“Pelaksanaannya sudah dari 2021, dan Alhamdulillah sudah berjalan sampai sekarang,” tambahnya.

Dari program tersebut, puluhan ODGJ berhasil distabilkan. Beberapa diantaranya sudah memiliki usaha sendiri seperti warung, usaha telur asin, cilor, ada juga yang bekerja menjahit.

“Alhamdulillah, kita terus membina para ODGJ sehingga memiliki usaha. Ada yang usaha telur asin, ada yang menjahit, punya warung, ada juga yang melanjutkan sekolah paket C,” ujarnya.

Telaten

Namun demikian, Gina mengungkapkan, dalam membina para ODGJ tersebut, harus memiliki kesabaran dan ketelatenan.

Adapun untuk pengarahan ke usaha atau bekerja, Gina mengatakan, pihaknya melihat potensi dan latar belakang para penderita ODGJ tersebut.

“Iya, harus telaten dan sabar. Soalnya tidak bisa dipaksakan, kami stabilkan dulu baru kami arahkan mau usaha apa. Tapi kami melihat potensi dari dirinya dan juga lingkungan sehingga dukungan dari lingkungan juga ada,” kata Gina.

Intinya lanjut Gina, para ODGJ tersebut harus memiliki kegiatan supaya penyakitnya tidak kambuh. Karena menurutnya ODGJ itu tidak bisa disembuhkan tapi distabilkan.

“Harus ada kegiatan, ODGJ kan penderita yang seumur hidupnya harus meminum obat, dan kalau tidak ada kegiatan takutnya nanti kambuh lagi,” paparnya.

Salah satu ODGJ yang tengah mengalami perkembangan yakni Emen pembuat Telur Asin Emen.

Emen sudah terlihat normal dan bisa memproduksi ratusan telur asin per bulannya.

Pihak puskesmas berharap produksi telur asin Emen semakin meningkat sehingga bisa meningkatkan ekonomi keluarganya.

Pihak puskesmas terus mengupayakan supaya produksi telur asinnya bisa diterima masyarakat luas, salah satunya ikut memasarkannya, lalu tertib administrasi seperti pembuatan izin usaha, pirt dan sertifikat halal.

“Bukan hanya Emen saja, kami berharap semua penderita ODGJ bisa terus memperlihatkan perkembangan baiknya, tentunya secara perlahan dan perlakuan yang berbeda sesuai dengan kasusnya,” harap kepala puskesmas Bungursari, Eko. (***)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *